Advertisement

Responsive Advertisement

Jangan Mengurai Yang Sudah Dipintal

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali. Kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Allah hanya menguji kamu dengan hal itu, dan pasti pada hari Kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu. (An-Nahl: 92)

Dulu sebelum Islam, ada seorang perempuan jelita dan kaya dari bani Makhzum yang frustasi, karena sudah berbilang bulan dan tahun jodohnya tak kunjung datang.  Bahkan sampai kedua orangtuanya meninggal dunia dan Raithah semakin tua, jodohpun belum kunjung darang.
Baru setelah usia separuh baya, datanglah pemuda yang kemudia menikahinya. Tetapi usia perkawinannya tidak berlangsung lama karena pemuda tersebut minggat dengan membawa separuh hartanya. Memang Sukhr, nama pemuda tersebut, menikahi Raithah demi hartanya.
Ibarat pepatah: Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.

Setelah ditinggal suaminya diusia seumur jagung pernikahannya, dia frustasi dan kesepian. Dia merasa asyik saat bermainan maib dengan alat pemintal benang dan kemudian mempekerjakan para wanita sekitar untuk memintal benang menjadi kain. Tetapi hasil pemintalannya tidak dijual ke pasar, melainkan  kain hasil pemintalan disiang hari diurai satu persatu hingga berantakan lagi pada malam harinya. Dan itu berlangsung terus menerus.

Begitulah nasib (kehidupan) yang dialami oleh Raithah al Hamqa yang menjadi perumpamaan pada ayat diatas.

Kisah ini, paling tidak, menjadi perumpamaan bagi dua perkara. Pertama, tentang kaum yang melakukan perjanjian dengan Rasulullah agar tak melanggarnya. Yang  kedua, bagi umat Islam yang telah beribadah dan melakukan banyak amalan di siang hari, hendaknya jangan merusaknya dan menyiakannya dengan melakukan maksiat di malam hari. Sebagaimana Raithah si wanita yang mengurai benang yang telah dipintalnya kuat-kuat.

Kisah ini juga bisa memberi peringatan kepada para aktivis oraganisasi bahkan organisasi dakwah sekalipun, agar jangan menghancurkan institusi organisasi yang yang telah dibangun dengan susah payah dengan pengorbanan waktu, tenaga dan sumberdaya yang tidak sedikit. Butuh waktu dan sumberdaya yang tidak sedikit untuk membangun sesuatu, tetapi hanya butuh satu dua langkah ceroboh untuk merobohkan nya.


 

Sun Tzu mengatakan:
"Untuk mengamankan diri kita dari kekalahan, ada di tangan kita sendiri, tetapi kesempatan untuk mengalahkan musuh disediakan oleh musuh."

Memang kekalahan sering kali terjadi bukan karena fihak lawan lebih kuat, tetapi karena kita lengah atau semakin lemah.

Banyak faktor yang membuat sebuah lembaga atau organisasi yang kuat akhirnya melemah. Diantaranya:

1. Tidak Mampu Menangani Masalah
Tidak ada organisasi tanpa masalah. Ada masalah  berupa konflik antar rekan kerja, masalah karyawan yang mulai frustasi dengan atasannya, produktivitas yang menurun atau target yang tidak tercapai.

2. Gagal Menghidupkan  Budaya Inovatif
Ketika organisasi gagal menghidupkan kreativitas anggotanya, maka organisasi  akhirnya akan kehilangan solusi untuk keluar dari masalah. Karena tanpa kreativitas tidak akan muncul program dan solusi yang inovatif.

3. Tidak Terbuka dalam Menerima Kritik dan Saran
Banyak pemimpin organisasi berhasil menjadi pembicara yang baik tetapi tidak bisa menjadi pendengar yang baik. Ini biasanya terjadi diawali karena keengganan mereka menghadapi anggota yang berbeda dan atau melawan arahan mereka. Tapi, karena tidak ada kesempatan untuk memberikan masukan, akhirnya mereka menantikan dan menunggu waktu untuk menyerang dan memberikan saran.

4. Membawa konflik keluar organisasi.
Dalam organisasi konflik adalah suatu hal yang biasa. Oleh karena itu dalam setiap organisasi selalu ada aturan tentang bagaimana menyelesaikan konflik yang timbul. Tetapi bila salah satu pihak yang berkonflik tidak puas dengan penyelesaian internal dan membawanya keluar, biasanya ini menjadi pintu masuk pihak luar untuk intervensi yang berujung pada melemahnya bagkan hancurnya organisasi.
Karena ketika salah satu  pihak membawa keluar, demi kepentingannya secara sadar atau tidak sadar dia mulai membuka rahasia kekuatan dan kelemahan organisasi kepada pihak lain yang boleh jadi punya agenda (negatif)  tersembunyi. Ini ibarat kata pepatah, Ula marani gebug.
"seekor ular yang mendatangi pukulan."

Yakni seseorang yang punya banyak rahasia organisasi tetapi karena kalah bersaing didalam kemudian mendatangi pihak eksternal dengan maksud dapat dukungan, ternyata malah menjadi pintu masuk intervensi pihak lain untuk  menghancurkan organisasi yang telah dibangunnya dengan susah payah.

Kita harus menanamkan kesadaran sejak awal bahwa kedudukan dalam organisasi adalah wadzifah tandzimiyah yang dibatasi oleh waktu, bukan sesuatu yang harus di-kekep selama mungkin.
Melapangkan dada untuk bersiap pensiun dan menggelar karpet merah untuk  yang muda, rasanya bukan kekalahan apalagi kehinaan. Tetapi kemuliaan!


Wallahua'lam bi shawab,
(Ugaf)

Post a Comment

0 Comments